Selasa, 02 Juni 2009

DIEKSIS BAHASA BATAK TOBA

1. PEMBAHASAN
1. Pengantar

Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu di antaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, dan sebagainya (Wijana, 1996: 1). Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji morfem dan kombinasi-kombinasinya. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggabungannya satuan-satuan lingual yang berupa kata yang membentuk satuan lingual yang lebih besar berupa frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna unit semantik yang paling kecil yang disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang berbentuk dari penggabungan dari satuan-satuan kebahasaan. Berbeda dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang mempelajari struktur bahasa secara internal, pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi (Parker, 1986: 11). Makna yang dikaji dalam semantik adalah makna yang bebas konteks (context independent), makna linguistik (linguistic meaning) atau makna semantik, sedangkan makna yang dikaji dalam pragmatik adalah makna yang terikat konteks (context dependent), maksud penutur (speaker meaning) atau (speaker sense) (Verhaar 1983: 131; Parker, 1986: 32; Wijana, 1996: 3).

Makna yang dikaji oleh semantik bersifat dua segi atau diadis (dyadic). Makna itu bisa dirumuskan dengan kalimat What does X mean? (Apa makna X itu?). Makna yang ditelaah oleh pragmatik bersifat tiga segi atau triadis (triadic). Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat What did you mean by X? (Apakah yang kau maksud dengan berkata X itu?) (Leech, 1993: 8; bandingkan pula Wijana, 1996: 3).

Pragmatik sebagai cabang linguistik yang berdiri sendiri memiliki bidang kajian yang cukup kompleks, bahkan dimungkinkan sering tumpang tindih antara kajian pragmatik dengan kajian cabang linguistik yang lainnya. Misalnya, kajian tentang pengacuan yang dipelajari dalam wacana, sampai saatnya akan dipelajari pula dalam deiksis yang termasuk kajian dalam pragmatik atau sebaliknya. Memang cukup sulit untuk membatasi secara tegas antara bidang yang satu dengan bidang yang lainnya.

Menurut Kaswanti Purwo (1987: 7), bidang kajian yang dipelajari dalam pragmatik ada empat yaitu : (1) deiksis, (2) praanggapan (presupposition), (3) tindak ujaran (speech acts), dan (4) implikatur percakapan (conversational implicature). Sedangkan menurut Levinson (1987: 27), bidang kajian pragmatik mencakup tentang deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana. Dengan demikian, Levinson memasukkan satu hal yang lain yaitu aspek-aspek wacana dalam kajian pragmatik, sedangkan Kaswanti Purwo tidak menyebutkan aspek wacana tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, tulisan ini hanya akan mengangkat satu pembahasan yang cukup menarik sebagai suatu kajian kebahasaan yang termasuk dalam kajian pragmatik yaitu deiksis, khususnya deiksis dalam bahasa batak toba.






2. Deiksis dalam Bahasa batak toba
Kata deiksis (deixis) berasal dari kata Yunani deiktikos, yang berarti ‘hal penunjukan secara langsung’. Dalam logika istilah Inggris deictic dipergunakan sebagai istilah untuk pembuktian langsung (pada masa setelah Aristoteles) sebagai lawan dari istilah elenctic, yang merupakan istilah pembuktian tidak langsung (The Compact Edition of the Oxford English Dictionary dalam Kaswanti Purwo, 1984: 2). Dalam linguistik sekarang kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, kata ganti demonstratif, dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu tindak ujaran (Lyons, 1977: 636). Sebelumnya, istilah deiktikos dipergunakan oleh tatabahasawan Yunani dalam pengertian yang sekarang disebut kata ganti demonstratif.

Deiksis adalah bentuk bahasa yang referennya berpindah-pindah tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, atau penulis, dan tergantung pada waktu dan tempat bentuk itu dituturkan (Kaswanti Purwo, 1984: 1). Bentuk bahasa itu dapat berupa kata atau frasa (Jack Richards et al., 1989: 75). Sebuah kata dikatakan bersifat deiktis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata atau frasa itu. Kata seperti bapa ‘ayah’ dan sonari ’sekarang’ adalah kata-kata yang deiktis. Kata-kata seperti ini tidak memiliki referen yang tetap. Berbeda halnya dengan kata seperti bukku ‘buku’, jabu ‘rumah’, tas ‘tas’. Siapa pun mengucapkan kata bukku ‘buku’, jabu ‘rumah’, tas ‘tas’, di tempat mana pun, pada waktu kapan pun referen yang diacu tetaplah sama. Akan tetapi, referen dari kata bapa ‘ayah’ dan sonari ’sekarang’ baru dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan kalimat berikut.

(1) A :Adong bapa? ‘Ayah ada?’

B : Ndang adong? ‘Tidak ada?’
Kata bapa bisa mengacu pada ayah A atau bisa juga pada ayah B. Kalau kata bapak mengacu pada ayah A berarti A benar-benar menanyakan keberadaan ‘ayah’-nya mungkin sedang berada di tempat B. Sedangkan kalau bapak mengacu pada ayah B berarti A memerlukan informasi tentang keberadaan ayah B.
Kata sonari juga bersifat deiktis dapat diperhatikan tuturan (2) berikut.
(2) Sonari bayar, sogot gratis. ‘Sekarang bayar, besok gratis.’
Kata sonari ternyata acuannya berpindah-pindah, karena sonari dalam (2) akan berbeda apabila tuturan itu dituturkan satu hari berikutnya tetap akan berbunyi sonari bayar, sogot gratis, satu hari berikutnya lagi tetap akan berbunyi seperti itu, tergantung waktu ujaran (moment of speaking). Di samping itu, terdapat pula kata sesuk yang juga bersifat deiktis sehingga menarik sekali dalam penggunaannya bersama dengan kata saiki. Tuturan ini kadang-kadang kita jumpai di warung-warung atau rumah makan dengan maksud untuk memikat konsumen agar selalu mengunjungi warung atau rumah makannya. Berdasarkan tuturan itu mungkin tidak pernah ada konsumen yang menikmati fasilitas gratis. Nampaknya juga tidak mungkin apabila tuturan (2) itu diubah menjadi seperti (2a).

(2a) * Sogot bayar, sonari gratis. ‘Besok bayar, sekarang gratis.’

Masing-masing tuturan (1) dan (2) referennya ada di luar tuturan, sehingga untuk mengetahui maksud tuturan itu harus dijelaskan faktor luar bahasa, seperti siapa, di tempat mana, dan pada waktu kapan tuturan itu berlangsung atau dituturkan.
Berdasarkan referennya, deiksis dapat dibedakan menjadi dua yaitu: (1) deiksis endofora (referennya ada di dalam tuturan) dan (2) deiksis eksofora (referennya ada di luar tuturan). Masing-masing dapat diperhatikan uraian 2.1 dan 2.2 berikut.


2.1 Deiksis Endofora
Deiksis endofora adalah deiksis yang referennya ada dalam tuturan. Deiksis endofora ada dua macam, yaitu deiksis endofora yang anaforis (pengacuan pada hal-hal yang telah disebutkan di muka) dan deiksis endofora yang kataforis (pengacuan pada hal-hal yang disebutkan kemudian). Deiksis endofora dapat berupa pengacuan persona dan demonstratif (berupa aspek lokatif maupun temporal). Pengacuan persona atau orang meliputi kata persona pertama: aku ’saya’, au (iba) . Kata ganti orang kedua misalnya: ho ‘kamu’, hamu ‘kamu’. Adapun kata ganti orang kedua misalnya -mu ‘-mu’. Kata ganti orang ketiga misalnya ibana ‘dia, ia’.Pengacuan demonstratif lokatif misalnya tuson ’sini’, tusi ’situ’, tusan ’sana’,jolo ‘depan’, pudi‘belakang’; sedangkan pengacuan demonstratif temporal misalnya sonari’sekarang’, nantuari‘kemarin’, dan sogot ‘besok’.

Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan tuturan (3) dan (4) berikut.
(3) Minggu nasalpu Tumpal mardalani tu jakarta, dang panagaman jumpang dohot donganna namasahai. ‘Minggu yang lalu Tumpal rekreasi ke jakarta, tidak terkira dia bertemu dengan teman lama.’
(4) Dohot soara na gogo, patoranghon matematika guru i. ‘Dengan suaranya yang keras, guru itu menjelaskan soal matematika.’

Kata Tumpal dan ibana dalam (3) memiliki referen yang sama, dan ibana mengacu ke arah depan yaitu kata Tumpal.
Deiksis endoforis merupakan pengacuan yang ada dalam tuturan nampaknya bukan merupakan fokus dalam kajian pragmatik, karena kajian pragmatik lebih menekankan referen di luar tuturan. Pengacuan di luar tuturan itu termasuk dalam cakupan deiksis eksofora.


2.2 Deiksis Eksofora
Deiksis eksofora adalah deiksis yang referennya ada di luar tuturan. Untuk mengetahui pengacuan di luar tuturan itu maka harus mengetahui faktor luar bahasa, seperti siapa, di tempat mana, dan pada waktu kapan tuturan itu berlangsung.
Deiksis eksofora dapat berupa deiksis persona dan demonstratif (berupa aspek lokatif maupun temporal). Misalnya, bentuk sapaan ibu ‘ibu’ bersifat deiktis, karena bisa berpindah-pindah referensinya. Kata ibu dapat ditafsirkan sebagai persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga. Misalnya dalam tuturan (5), (6), dan (7) berikut.

(5) Lao majo uma tu onan da. ‘Ibu akan pergi ke pasar, ya.’
(6) Lao tudia uma? ‘Ibu akan pergi ke mana?’
(7) Maronan do uma. ‘Ibu sedang pergi ke pasar.’
Secara eksternal, bila dilihat dari penggunaan kata ibu dalam (5) sebagai persona pertama, karena tuturan seorang ibu itu mungkin disampaikan kepada anak-anaknya atau kepada suaminya, dalam (6) sebagai persona kedua, karena tuturan itu muncul dari anak-anaknya atau mungkin juga dari suaminya, sedang (7) sebagai persona ketiga, karena tuturan itu muncul dari ana-anak atau suaminya yang masing-masing memberikan informasi tentang kegiatan atau keberadaan ibu.
Deiksis lokatif berpusat pada penutur. Misalnya kata dan frasa tuson ’sini’, disi ‘di situ’, dan disan‘di sana’ adalah deiktis karena untuk mengetahui makna frasa-frasa itu harus mengetahui siapa, kapan, dan di mana tuturan itu dihasilkan. Masing-masing frase itu dapat diperhatikan penggunaannya dalam tuturan (8), (9), dan (10) berikut.

(8) Nunga hea ahu lao tusan . ‘aku sudah pernah pergi Kesana’
(9) Tabo do panghilalaonhu disan. ‘Di situ saya merasa senang.’

(10) Dung sahat ahu disan tabo do panghilalaanku. ‘setelah sampai disana aku merasa nyaman’

Ditinjau dari pusat deiksis dengan penuturnya, maka kata tusan dalam (8) ‘dekat dengan penutur’, frasa disan ‘agak dekat dengan penutur’, dan disan ‘jauh dengan penutur’.

Hal lain yang menarik pada kata tuson ’sini’, tusan ’situ’, dan tusan ’sana’ bukan hanya merupakan deiksis lokatif, tetapi juga merupakan deiksis persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga seperti nampak dalam tuturan (11) berikut.
Dalam kasus pembalikan deiksis (deictic reversal) kata dison ‘di sini’ dan frasa di son ‘di sini’ dapat ditemukan dalam pembicaraan pada situasi pembicaraan dengan telepon dan dalam situasi menulis surat.

(11) Halo, ai ro do udan lae dison? ‘Halo, bagaimana mas sini hujan tidak.’
(12) Bah, naimbaru bajuna. Patuk ma asing pardalanna. ‘Wah, bajunya baru. Pantas jalannya lain.’
(13) Ise goarna? Didia jabuna? ‘Namanya siapa? Rumahnya di mana?’

Bentuk jolo ‘depan’ dan pudi ‘belakang’ juga bersifat deiktis, misalnya dalam tuturan (14) berikut.
(14) dijolo ni hau i adong biang. ‘Ada anjing di depan pohon.’

Kata jolo dan pudi tidak deiktis apabila dirangkaikan dengan nomina seperti manusia, rumah (karena mempunyai bagian depan dan belakang).
Deiksis temporal tergantung pada waktu ujaran (moment of speaking). Misalnya kata sonari dan sogot dalam (2) di atas adalah deiktis. Kata yang lainnya yang sejenis dengan kata sonari dan sogot adalah nantuari ‘kemarin’, misalnya dalam tuturan (15) berikut.

(15) Nantuari hului do ho.’Saya kemarin mencari kamu.’
Berdasarkan waktu ujaran, kata nantuari dalam (15) ’satu hari sebelum tuturan berlangsung atau dituturkan’, sehingga kalau tuturan itu misalnya dituturkan satu hari kemudian, maka kata nantuari akan mengalami perpindahan referen.











3. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1) Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi. Makna yang dikaji dalam pragmatik adalah makna yang terikat konteks (context dependent), maksud penutur (speaker meaning).
2) Dalam kajian ini ditemukan deiksis persona seperti kata bapa (bapak), ahu (aku), hamu (kalian), ho(kamu), iba(saya). Ditemukan juga deiksis tempat seperti kata disan (disana), dison ( disini), disi (di situ), dan juga deiksis waktu seperti sogot( besok), sonari (sekarang), nantuari (kemarin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar